Archive for November, 2007

Renungan 01 Desember 2007

Friday, November 30th, 2007

Delapan
Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat
manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru
sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini
justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah
energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali
kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil
memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak
lapar" ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan
hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.
Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging
ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang
aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan
sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu
pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan
hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di
kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih
bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel
kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu
masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak,
aku tidak capek" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian.
Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan
gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi
lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku
dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh
yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih
kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak
haus!" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai
ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai
kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah.
Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada
seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku
baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah
melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat
mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ———-KEBOHONGAN
IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja,
ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk
pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan
sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak
mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :
"Saya punya duit" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh
gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di
sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang
lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.
Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata
kepadaku "Aku tidak terbiasa" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda
tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani
operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan.
Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang
ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku
sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil
berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi
seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku,
aku tidak kesakitan" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya
untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh
dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba
dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita?
Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan
ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu
mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian.
Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita.
Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan
atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita
semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah
makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini
benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih
mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik.
Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Renungan 24 November 2007

Friday, November 23rd, 2007

Kisah 1000 Hari Sabtu

Shared by Rick of Kingston , NY

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat".

Ia melanjutkan : "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku".

Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya. "Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung- hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting".

"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini", sambungnya, "dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati".

"Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya" .

"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu".

"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Tuhan telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi".

"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan
lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan".

"Lho, ada apa ini…?", tanyanya tersenyum.

"Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial", jawabku, " Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."

HAVE A GREAT WEEKEND AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.

MORAL CERITA :
Pernahkah kita berpikir bahwa hidup itu juga adalah anugerah ? Bahkan anugerah yang lebih besar daripada pacar, kemampuan berbicara dengan sempurna, jabatan, uang atau hal2 lain yang lebih remeh ? Mana yang lbh sering kita lakukan ? Bersyukur atas anugrahnya yang besar itu atau mengeluh atas hal2 lain yang lebih remeh yang kita rasa mengganggu ?

SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama
kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain. Apakah postingan bulbo anda dengan kalimat2 kutukan itu bermanfaat bagi orang lain ?

Tulisan berwarna lain itu juga sebagai tanggapan atas bulbo yang sedang jadi pembicaraan hari hari ini

Kalo aku jadi …..

Wednesday, November 21st, 2007

Blog kali ini bukan renungan ^^
Karena udah jarang buat blog yang ringan ringan sekarang ini mo buat, terlalu ringan juga engga’, ini postingan tentang impian liar seorang laki2 berumur 22 tahun.
Kalo aku jadi….. WALIKOTA SURABAYA
Banyak kita cmn bisa bilang Walikota Surabaya ga becus, macet di mana mana, panassss, polusi di mana mana, kalo udah mau pilwali baru semua diperbaiki. Tanpa kita turut berpikir tentang Surabaya dan cara mengatasi masalah yang timbul di kota tercinta kita ini (walaupun mungkin anda cmn jadi pendatang).

berhenti sejenak…. berpikir

OK,
Rencana dekat

  1. Aku akan menghilangkan biaya study banding / whatever itu ke luar negeri, karena menurutku kalau mau belajar ga harus dateng ke sana dan datengpun cukup 1 orang ga perlu bawa adik, kakak, teteh, anak, istri, teman, kakaknya teman, temannya temannya teman… -_-a
  2. Perbanyak tanaman/tumbuhan hijau di surabaya. How ? Where? Perijinan pembangunan mulai David Boy Tonara ini menjabat akan diberikan ketika pembangun sudah menyediakan minimal 5% di area yang akan dibangunnya itu untuk menjadi area tumbuhan hijau. Pengusaha jgn cmn bisanya mikir untung doank !! 5% itu dikit om PPN aja 10%. Peraturan ini termasuk Ruko, Restaurant, Plaza, Mall, dan Gedung Pemerintahan
  3. Naikkan gaji pegawai negeri, tetapi dengan permintaan balik Ga ada Pegawai Negeri yang ke Plaza waktu jam kerja, Ga ada Pegawai Negeri yang tutup kerjaan sebelum waktunya, Ga ada Pegawai Negeri yang cari ceperan, Ga ada Pegawai Negeri yang korupsi. Well paling ngga menurutku percuma kalo kita cmn gembar gembor no korupsi tapi gaji mereka ga dinaekkin menurutku ga pas timbal baliknya.
  4. Seluruh bangunan di jalan2 protokol (A.Yani, Basuki Rahmat, Darmo) harus menyediakan 2 meter untuk trotoar (mau bikin sidewalk gitu ^^)
  5. Sweeping mobil mobil diesel dan angkutan umum yang udah ga layak jalan, indikasinya adalah kentut berwarna hitam pekat yang keluar dari pantat (aka knalpot) mereka.
  6. Ga ada lagi APBN buat Persebaya, Sorry wa juga suka sepak bola man tapi untuk membiayai klub maaf saja. Kalo mau anda cari sponsor. Seandainya saya ada uang lbh akan saya kasih bonus untuk pemain dari KANTONG SAYA PRIBADI. Fasilitas Rakyat lbh membutuhkan dana APBN sekarang ini daripada kebutuhan anda untuk mendatangkan + membiayai gaji pemain asing. ~.~

Rencana Jangka Menengah

  1. Buat kereta Subway untuk mengatasi kemacetan (Bukan BusWay kayak di Jakarta yang malah makan jalan dan jadinya malah bikin macet) dan saya akan tenderkan dengan catatan ga perlu kasih saya uang apa apa (ga kayak Mantan Gub DKI yang kabarnya dapet 10jt per 10km) selama barang bermutu dan harga sesuai maka lakukan.
  2. Buat jadwal untuk mobil2 yang berlalu lalang di jalan jalan tertentu (jalan yang rawan kemacetan, dalam hal ini A.Yani, Darmo, Basuki Rahmat) Rencananya kayak gini :
    • Mobil dengan digit terakhir plat nomor 0,1 tidak boleh berlalu lalang di jalan itu pada hari Senin (kalau melanggar tilang)
    • Mobil dengan digit terakhir plat nomor 2,3 tidak boleh berlalu lalang di jalan itu pada hari Selasa (kalau melanggar tilang)
    • dst…
    • Mobil dengan digit terakhir plat nomor 0,1,2,3,4 tidak boleh berlalu lalang di jalan itu pada hari Sabtu
    • Mobil dengan digit terakhir plat nomor 5,6,7,8,9 tidak boleh berlalu lalang di jalan itu pada hari Minggu
    • Tapi tetap ada solusinya bro, Ada subway untuk anda, ada jalan alternatif dan ada angkutan umum yang tentunya sudah diperbaiki fasilitasnya
    • Angkutan kota (plat kuning)boleh berlalu lalang sepanjang minggu
    • Plat Nomor luar kota (selain L) silahkan gunakan jalan alternatif (jika melanggar ditunjukkan tempat parkir untuk subway dan dipersilahkan menggunakan kereta bawah tanah)

    Saat peraturan ini diberlakukan diharapkan Surabaya sudah menjadi tujuan wisata belanja dan makan seperti Singapura dan ditunjang dengan pembangunan taman taman kota dan patung patung serta lampu lampu kota sebagai penunjang

  3. Adakan pusat pelatihan tenaga kerja. Tempat ini sebagai pelatihan tenaga kerja kasar juga sebagai tempat penampung lapangan pekerjaan kasar misal (melipat dus, membungkus permen, melipat amplop, me-lem perangko) dengan kata lain penampung pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja
  4. Buat semacam Hall of Fame di side walk, tetapi yang tertulis namanya atau cap tangannya di sini adalah orang orang yang berjasa untuk kemajuan kota Surabaya contoh : Bung Tomo, Dahlan Iskan, Azrul Ananda (tentunya nama saya belum layak dimasukkan sini)

Rencana Jangka Panjang

  1. Basmi gelandangan dan pengemis di jalan jalan wkwkwk dalam arti masukkan ke pusat pelatihan tenaga kerja, khan sudah ada ^^.
  2. Bangun Kenjeran menjadi tempat tujuan wisata, lbh seperti Benoa daripada WBL.
  3. Bangun menara di pusat kota Surabaya untuk melihat pemandangan kota surabaya dari atas.

    saat ini diharapkan surabaya sudah menjadi tujuan wisata bukan hanya wisata perbelanjaan tetapi wisata bahari juga wisata landscape dan tentunya Surabaya akan jadi surga untuk para photographer dan nantinya kita akan lihat di kalender2 yang dijual di luar negeri salah satunya ada gambar pemandangan entah itu pantai di Surabaya atau pemandangan dari menara di Surabaya.

Yah sekian dulu hasil pemikiran dari seorang mahasiswa dalam rehatnya mengerjakan TA. Inilah mimpi liarku, aku tulis di blog supaya aku tetap ingat dan orang bisa mengingatkan aku kalau aku tidak melakukannya di kemudian hari waktu aku terpilih menjadi Walikota Surabaya. Ada yang mau calonkan aku jadi Walikota Surabaya ? ^^
Viva Surabaya !!

Surabaya, 21 November 2007

David Boy Tonara
Seorang mahasiswa yang baru bisa bermimpi

:: seseorang tidak akan menjadi lebih hebat daripada mimpinya, karena itu milikilah mimpi dan fokuskan dirimu untuk menggapainya
:: kok post ini jadinya lbh berat daripada posting laennya ya ^^ wkwkwkwkwk gpp lah thx udah membaca ^^

Renungan 17 November 2007

Saturday, November 17th, 2007

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad
19,
memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain
biola dengan diiringi orkestra penuh.

Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai
membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang
sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya
meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton
melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri
dan berteriak,"Hebat, hebat."

Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk
duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu
senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat
pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.

Dengan mata berbinar dia berteriak, "Peganini dengan satu senar" Dia
menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari
lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum
pada kejadian ini.

Renungan :

Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal
yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu
banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala
sesuatu yang kita tidak dapat ubah.

Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup
Anda? Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian,
janganlah melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya
itu. Mainkanlah itu dengan indahnya.

Buktikan apakah persoalan yang mengalahkan anda ataukah anda yang mengalahkan persoalan ?

 

Credit to aristian

Renungan 10 November 2007

Saturday, November 10th, 2007

Mengasihi Tanpa mengatakan Sesuatu

Oleh : Andiko Trikasi

Saya ditraktir makan mie di kedai mie yang terkenal.
Harganya tidak mahal dan rasanya sangat lezat sekali.
Kami duduk didepan meja panjang yang dapat menampung sekitar sepuluh orang bila mengelilingi meja.
Meja sudah terisi enam orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami.
Tepatnya diantara teman saya dan pengunjung lainnya. Mereka telah memesan mie dan sedang menunggu.
Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri yang masih muda dan seorang anak yang berusia sekitar enam tahun.

Mereka keluarga yang jauh dari sederhana.
Pakaiannya agak kusam dan berbau.
Si anak kelihatannya baru sembuh dari suatu penyakit yang tidak kami ketahui dan sedang menarik ingusnya keluar masuk.
Ingusnya seperti angka sebelas dan terkadang seperti angka satu dengan warna kuning kehijau-hijauan.
Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya.
Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa.

Sepertinya makan mie merupakan perayaan menyambut kesembuhannya.
Saat mie datang keluarga tersebut makan dengan lahap.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya.
Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan.
Bayangkan aja, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak.
Belum lagi melihat dan mendengar ingus yang ditarik keluar masuk dan sesekali dibersihkan oleh ibunya.

Setiap kali memakan mie sambil meminum kuahnya, rasanya seperti ingus telah tercampur dengan makanan dan membuat selera makan hilang.
Tidak berapa lama kemudian, keempat pelanggan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu- tanpa menghabiskan makanan.
Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar diwajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat pengunjung lainnya.

Tetapi itu tidak berlangsung lama, terutama saat mereka melihat teman saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie dengan segala kecuekannya. Seolah-olah tidak ada bau disekitarnya dan tidak ada suara ingus yang didengar. Saya tidak bisa berbuat banyak selain belajar cuek dan menghabiskan sisa mie.
Lagi pula saya ditraktir makan dan tidak berhak mengajukan hal-hal yang aneh-aneh dan tidak sopan.

Selesai makan, kami masih duduk dua puluh menit sebelum meninggalkan kedai makanan. Saya heran dengan tingkah teman saya yang diluar kebiasaannya.
Biasanya setelah makan, ia hanya duduk paling lama sepuluh menit.
Sekali lagi saya harus mengikuti kemauan teman saya dengan jengkel.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan ia sangat terganggu duduk di samping keluarga tersebut. Ia merasakan rasa bau dan merasa terganggu dengan suara ingus anaknya. Ia merasakan tepat seperti yang saya rasakan.

Teman saya juga mengatakan, jika ia meninggalkan keluarga tersebut di saat mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Uang itu
tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi tidak bagi keluarga itu.

Saya sangat terkejut mendengar penuturan teman saya.
Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang unik, bertahan makan mie sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.

Saya teringat bagaimana rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami istri ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang cuek.

Pertama kali dalam hidup ini, saya menyadari dan menyaksikan bagaimana mengasihi sesama tanpa mengatakan sesuatu benar-benar tidak mustahil.
Ini benar-benar keajaiban. Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis.
Masa bodoh dengan sikap saya dan pengunjung lain yang tidak terpuji.
Menunggu dua puluh menit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman.

Ajaib bagaimana teman saya menegor saya tanpa mengatakan sesuatu. Ia tidak menuduh tetapi cukup telak memukul saya. Saya merasa sangat terpukul, malu tetapi tidak marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana mudahnya mengatakan mengasihi sesama tetapi tidak melakukannya

Pada hari-hari terakhir hanya akan tinggal 3 hal yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Dan yang paling besar dari kesemuanya itu adalah kasih.
Pertanyaan penting buat kita semua adalah seberapa besar kita sudah menunjukkan / menyampaikan kasih kita ? Atau mungkin bahkan tidak ada sedikitpun kasih yang bisa kita berikan untuk sesama kita ?

Renungan 03 November 2007

Saturday, November 3rd, 2007

BERUNTUNG ITU PILIHAN

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus.Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone
ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada
ilmunya.

Professor Richard Wiseman
dari University
of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial.

Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung,
dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?


Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan
yang tidak kecil berbunyi "berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar
di koran ini". Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung
gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh
pesan lain yang bunyinya: "berhenti menghitung  sekarang dan bilang ke peneliti
Anda menemukan ini, dan menangkan $250!" Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya "scientific" ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:


1. Sikap terhadap peluang.

Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? 

Ternyata
orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka
terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap
interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan
jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga
tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.

Sebagai
contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New
York hendak menjual toko permata nya,tanpa disengaja sewaktu berjalan
di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di
sebelahnya: "Mr.Buffet!" Hany a kejadian sekilas yang mungkin akan
dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber
berpikir lain.


Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet,
salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang
menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria
di sebelahnya, dan betul ternyata
dia adalah Warren Buffet.

Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak
mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung
kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli
jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan "hati nurani" (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari "gut feeling".

Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, "mendengarkan intuisi" itu bagaimana?
Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu?
Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.

Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk,
misalnya:

  • Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. "Gue kok tiba2 deg-deg  an ya, mau dapet rejeki kali", semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
  • Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa  hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya.Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.

Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya.
Dalam salah satu tes-nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: "wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu". Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: "untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit".

Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.


Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat "Luck Diary", buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit,tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip "law of attraction", semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk termasuk anda semua.


SETELAH APA YANG ANDA BACA LALU APA YANG ANDA PUTUSKAN ? MEMILIH UNTUK BERUNTUNG ATAU MEMILIH UNTUK SIAL ? PILIHLAH PADA HARI INI

credit goes to Aristian Wikarsa