Renungan 10 November 2007
Mengasihi Tanpa mengatakan Sesuatu
Oleh : Andiko Trikasi
Saya ditraktir makan mie di kedai mie yang terkenal.
Harganya tidak mahal dan rasanya sangat lezat sekali.
Kami duduk didepan meja panjang yang dapat menampung sekitar sepuluh orang bila mengelilingi meja.
Meja sudah terisi enam orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.
Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami.
Tepatnya diantara teman saya dan pengunjung lainnya. Mereka telah memesan mie dan sedang menunggu.
Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri yang masih muda dan seorang anak yang berusia sekitar enam tahun.
Mereka keluarga yang jauh dari sederhana.
Pakaiannya agak kusam dan berbau.
Si anak kelihatannya baru sembuh dari suatu penyakit yang tidak kami ketahui dan sedang menarik ingusnya keluar masuk.
Ingusnya seperti angka sebelas dan terkadang seperti angka satu dengan warna kuning kehijau-hijauan.
Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya.
Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa.
Sepertinya makan mie merupakan perayaan menyambut kesembuhannya.
Saat mie datang keluarga tersebut makan dengan lahap.
Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya.
Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan.
Bayangkan aja, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak.
Belum lagi melihat dan mendengar ingus yang ditarik keluar masuk dan sesekali dibersihkan oleh ibunya.
Setiap kali memakan mie sambil meminum kuahnya, rasanya seperti ingus telah tercampur dengan makanan dan membuat selera makan hilang.
Tidak berapa lama kemudian, keempat pelanggan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu- tanpa menghabiskan makanan.
Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar diwajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat pengunjung lainnya.
Tetapi itu tidak berlangsung lama, terutama saat mereka melihat teman saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie dengan segala kecuekannya. Seolah-olah tidak ada bau disekitarnya dan tidak ada suara ingus yang didengar. Saya tidak bisa berbuat banyak selain belajar cuek dan menghabiskan sisa mie.
Lagi pula saya ditraktir makan dan tidak berhak mengajukan hal-hal yang aneh-aneh dan tidak sopan.
Selesai makan, kami masih duduk dua puluh menit sebelum meninggalkan kedai makanan. Saya heran dengan tingkah teman saya yang diluar kebiasaannya.
Biasanya setelah makan, ia hanya duduk paling lama sepuluh menit.
Sekali lagi saya harus mengikuti kemauan teman saya dengan jengkel.
Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan ia sangat terganggu duduk di samping keluarga tersebut. Ia merasakan rasa bau dan merasa terganggu dengan suara ingus anaknya. Ia merasakan tepat seperti yang saya rasakan.
Teman saya juga mengatakan, jika ia meninggalkan keluarga tersebut di saat mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Uang itu
tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi tidak bagi keluarga itu.
Saya sangat terkejut mendengar penuturan teman saya.
Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang unik, bertahan makan mie sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.
Saya teringat bagaimana rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami istri ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang cuek.
Pertama kali dalam hidup ini, saya menyadari dan menyaksikan bagaimana mengasihi sesama tanpa mengatakan sesuatu benar-benar tidak mustahil.
Ini benar-benar keajaiban. Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis.
Masa bodoh dengan sikap saya dan pengunjung lain yang tidak terpuji.
Menunggu dua puluh menit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman.
Ajaib bagaimana teman saya menegor saya tanpa mengatakan sesuatu. Ia tidak menuduh tetapi cukup telak memukul saya. Saya merasa sangat terpukul, malu tetapi tidak marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana mudahnya mengatakan mengasihi sesama tetapi tidak melakukannya
Pada hari-hari terakhir hanya akan tinggal 3 hal yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Dan yang paling besar dari kesemuanya itu adalah kasih.
Pertanyaan penting buat kita semua adalah seberapa besar kita sudah menunjukkan / menyampaikan kasih kita ? Atau mungkin bahkan tidak ada sedikitpun kasih yang bisa kita berikan untuk sesama kita ?
November 10th, 2007 at 10:34 am
Kasih itu perlu pengorbanan. Mengasihi berarti mau berkorban sesuatu.
Kasih Tuhan pun terbukti dengan Anak-Nya yang rela memberikan nyawa-Nya.
————————–
Meski susah, that’s the way we give our love to others ^^
cool Boy, tetep bertahan ^^
- GBU, bro -
November 10th, 2007 at 5:38 pm
hehehe
nice posting^^
kadang kita g sadar,kalo sikap kita uda buat orang lain jatuh…
ya setuju mbe ko kris… “Meski susah, that’s the way we give our love to others ^^”
ada harga yg harus di bayar^^
November 11th, 2007 at 2:27 am
halahhhh
LOVE, LOVE, LOVE, LOVE, LOVE, LOVE, LOVE, LOVE
what is LOVE?
hampir semua orang bisa mengucapkan LOVE
ngomong sih gampang….
mana buktinya????
ga usah deh pelayanan….
ga usah deh bilang LOVE
ga usah deh konseling
ga usah deh sok sok tegar gitu…
mana LOVE????
mana KASIH itu mana?????
hoiiiiiiiiii
somebody please kembalikan kembali definisi LOVE yang benar….
aku sudah hampir lupa dengan namanya LOVE
aku cuma tahu hanya TUHAN YESUS yang tahu arti LOVE
tak seorang pun didunia ini yang tahu LOVE yang sebenarnya….
setahu aku LOVE itu tidak mengharap kan apapun….
jangan lah kau berani bilang LOVE, kalo kamu sendiri tidak tahu LOVE…
ga layak hoiiiiiiiiiii
sorry sorryy
I really need help right now…
:D
:D
:((
November 11th, 2007 at 6:16 am
setuju tak ada seorangpun di dunia ini yang tau Love yang sebenarnya
tapi bukan berarti kita ga layak bilang love ato kasih
selama kita mengasihi sejauh kapasitas kita, kita layak bilang love ato kasih
bukankah yang sedang kita lakukan adalah memperbesar kapasitas love atau kasih kita sehingga pada saatnya nanti kasih yang bisa kita berikan adalah kasih yang sempurna ?
November 11th, 2007 at 6:23 am
hahahah ternyata banyak yang nangkep dari sudut pandang yang berbeda… wow it’s cool ^^
kalo buat aku artikel di atas artinya : bahkan kita bisa mengasihi (hal yang sulit) dengan hanya diam (hal yang mudah)
kadang kita menganggap mengasihi itu hal yang sangat sulit sekali, tapi hal yang kita lakukan dengan tulus untuk seseorang, tanpa kita sadari itu berarti kasih untuk orang itu. ^^
November 11th, 2007 at 9:19 am
@ko Andi:
Manusia belum bisa memberi kasih AGAPE. Cuma Tuhan yang bisa.Kasih AGAPE tidak tuntut balasan. So, manusia mengasihi dengan caranya sendiri. Mungkin semuanya ini mengarah ke satu kata, “KAPASITAS” seperti yang David Boy bilang.
Manusia mengasihi masih berharap untuk dikasihi. It’s the way human give his/her love. Beda ma Tuhan. Dia beri dan tak harap kembali. That’s the way JESUS love us ^^
Jadi, buat ko Andi yang mungkin sedang dalam kebingungan, pegang dulu kebenaran bahwa cuma Tuhan Yesus yang punya kasih sejati, selanjutnya Tuhan akan tunjukkan jalan-Nya.
(Matius 6:33)
Semoga membantu….
Tuhan Yesus memberkati ^^