Renungan 22 Desember 2007

Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia
ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa.
Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku
tembak satu dengan yang lain.

Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit
merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan
bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun
orang tuanya.

Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan
seluruh anggota keluarganya masing-masing, makan bersama, bahkan
menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang
hangat.

Berbeda dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar
sangat dingin sekali dan saljupun turun dengan lebatnya, mereka
bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi,
melainkan berada di hadapan musuh perang mereka yang setiap saat
bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.

Tiada hadiah yang menunggu selainnya peluru dari senapan musuh,
bahkan persediaan makananpun sudah berkurang jauh, sehingga hari inipun
hampir seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena
turunnya salju. Biasanya mereka berada di lingkungan suasana yang
hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit,
seperti layaknya seekor tikus, boro-boro bisa mandi dan berpakaian
bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh
dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan
yang lebih besar pada saat ini selainnya rasa damai untuk bisa
berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Seorang tentara sedang merintih kesakitan karena barusan saja
terkena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan,
bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras dan tegas entah kenapa pada
malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun
berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia
enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir ? Kapankah mereka akan
bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing ? Kapankah mereka bisa
memeluk lagi orang orang yang mereka kasihi ? Dan masih merupakan satu
pertanyaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan
berkumpul kembali dengan istri dan anak - anaknya ? Entahlah…

Tidak sepatah katapun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin
terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan
keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu seperti
demikian.

Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, ada cahaya kecil yang
timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya
ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang
diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka, sehingga
nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu Stille
Nacht, heilige Nacht" (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya
sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan
tersebut semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat
para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan
anggota keluarganya yang berada jauh dari medan perang ini.

Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang
menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan
merdu. Prajurit Sprink tersebut sebelumnya ia dikirim ke medan perang
adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana
keheningan dan gelapnya malam Natal tersebut telah mendorong dia untuk
melepaskan emosinya dengan menyanyikan lagu tersebut, walaupun ia
mengetahui dengan menyanyikan lagu tersebut, prajurit musuh bisa
mengetahui tempat di mana mereka berada.

Ia bukan hanya sekedar menyanyi dalam tempat persembunyiannya saja,
ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas
sehingga dapat terlihat dengan nyata oleh semua musuh - musuhnya.
Melalui nyanyian tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil
mengingatkan kembali makna dari Natal ini, ialah untuk berbagi rasa
damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia
bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Tetapi apa yang terjadi, apakah
ia ditembak mati ?

Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukjizat yang terjadi, sebab
pada saat yang bersamaan semua prajurit yang ada di situ turut keluar
dari tempat persembunyiannya masing-masing, dan mereka mulai
menyanyikannya bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya
Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup
bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang.
Mereka menyanyikan lagu Malam Kudus ini dengan rasa pilu dan air mata
yang turun berlinang.

Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan
mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasanya masing -
masing, di sinilah rasa damai dan sukacita benar - benar terjadi.
Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama dengan lagu Adeste
Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi
perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan
bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.

Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seyogianya harus
saling tembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa
dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan
menyembah bersama kelahiran-Nya, Sang Juru Selamat. Rupanya inilah
mukjizat Natal yang benar - benar bisa membawa suasana damai di malam
yang suci.

Ada orang orang yang dalam keadaan perang dapat menemukan damai lewat Natal tetapi di lain sisi ada orang² yang justru saling menyakiti, saling tersinggung dalam suasana Natal. Mungkin itu anda yang sekarang sedang melayani di kebaktian Natal. Mungkin itu anda yang sekarang sedang duduk di kebaktian Natal. Mungkin itu anda yang sedang berdiam mempersiapkan kotbah atau sedang menyampaikan Firman Tuhan. Natal harusnya membawa damai, sudahkah damai itu anda rasakan ?

One Response to “Renungan 22 Desember 2007”

  1. Kristian Says:

    that’s the christmas spirit i always wanted until this day ^^
    a spirit that gives something different than daily human feeling ^^

    i wished thank God for that…
    Merry Christmas, everyone!?

    - GBU -

Leave a Reply