Renungan 29 Desember 2007

29 November aku buat renungan
Tepatnya buat sejak 28 November sih dalam perjalanan ke Bali cuman yang menjadi masalah sangat tidak mungkin sekali aku izin ke pacarku dan keluarganya ke warnet untuk posting blog yang mereka bahkan blog aja ga tau
Di renungan terakhir tahun ini (2007) aku mau buat renungan Sabtu yang gue bgt yang nyadarin gw bgt — kelihatan rada selfish ya … ^^

Ok…
Hal ini bermula waktu mobil memasuki kawasan Situbondo dan ban mobil terasa sedikit terlalu keras. Di jalanan panjang itu kami ga bisa melihat satupun tukang tambal ban di sana.

Pelajaran Pertama
Banyak hal yang kita anggap remeh ternyata sangat berpengaruh dalam hidup kita. Pernahkah kita berpikir tentang keberadaan tukang tambal ban ? Banyak kali kita terpikir mereka ada atau tidak ada sama saja. Bagaimana dengan supir truk sampah ? Atau orang yang bertugas mengangkut sampah dari tempat sampah kita ke truk sampah ? Bagaimana dengan pemulung ?

Apalagi setelah aku melihat secarik kertas di kapal fery untuk penyebrangan Ketapang - Gilimanuk. Di situ aku melihat sederetan jabatan di kapal fery, juru mudi 1 lah, juru mudi 2, kelasi 1, kelasi 2 dan tertera semua job desc mereka dalam kondisi kebakaran, orang jatuh ke laut, dan kapal tenggelam. Hmm… selama ini aku berpikir yang penting di kapal kecil ya cmn Nahkoda lainnya cmn membantu nahkoda agar tetap terjaga ^^.

Seberapa sering kita menganggap remeh mereka hanya karena mungkin kita lbh mampu dari mereka ? Atau kita lbh pintar ? Siapa yang kita anggap penting di dunia ini ? Hanya para peneliti ? Hanya para ilmuwan ? Hanya para petinggi negara ? Hanya para pahlawan ? Atau paling tragis hanya para penemu algoritma ? Kadang kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri, dengan kuliah kita, dengan skripsi kita. Pernahkah kita berpikir tentang mereka ? Atau pernahkah terlintas dalam benak kita "Apa yang sudah kita lakukan untuk dunia" ? Bumi sudah semakin tua, kesudahannya sudah dekat, Apa yang sudah kita lakukan ?

Pelajaran Kedua
Hari itu aku berpikir, bagaimana jika semua orang diciptakan /ditakdirkan untuk jadi kaya ? Daftarlah pekerjaan yang kamu anggap layak dan anggaplah anda berada di dunia yang sangat makmur sehingga hanya ada orang2 dengan pekerjaan2 yang layak. Aku berpikir tentang bagaimana jadinya sampah yang kita hasilkan setiap hari ? Bagaimana jika ban mobil kita bocor di suatu tempat ? Bagaimana jika WC ko shen mampet karena ko shen terlalu banyak boker (he..he..)?

Sampailah aku pada suatu kesimpulan, siapa sih yang berhak menilai pekerjaan itu layak atau tidak ? Dan sampai juga aku pada suatu penilaian "Kalo begitu semua pekerjaan layak asal halal". Karena dalam pekerjaan halal yang kita anggap tidak layak itulah kehidupan kita ternyata bergantung. Siapakah kita sehingga kita menolak suatu pekerjaan (yang kata kita pula adalah ibadah) hanya karena penghasilan ? Tidakkah kita memandang pekerjaan adalah sebuah sarana untuk kita dapat mengenal orang-orang baru dan berdampak buat mereka ? Banyak kita (kata kita berarti termasuk saya) berkata bahwa kerja adalah buat Tuhan, berdoa supaya kita menjadi berkat di pekerjaan, tapi yang kita lakukan hanyalah memuaskan kesombongan dan keegoisan kita.

Pelajaran Ketiga
Lalu jika semua pekerjaan layak, mengapa harus mereka yang bekerja dengan "lebih tidak layak" ? Beberapa jam aku memikirkan hal itu, sampai aku tiba pada sebuah pendapat. Justru mereka itu orang orang hebat, orang orang yang mentalnya kuat. Seandainya kita yang berada di posisi mereka, mungkin sekarang kita sudah bunuh diri, atau hanya diam meratapi nasib, atau melakukan pekerjaan yang tidak halal demi sesuap nasi.

Sekarang aku lbh menghormati mereka, karena banyak dari mereka memiliki kekuatan mental yang jauh daripada aku. Buktinya Tuhanku tidak mengijinkan aku dicobai untuk menjadi seperti mereka. Beranikah kita berkata "Tuhan jika nanti mentalku sudah kuat, imanku sudah hebat, berilah aku pencobaan seperti engkau memberi mereka pencobaan" ? Hmm… aku sendiripun masih harus berpikir panjang untuk berkata seperti itu.

Well 3 pelajaran yang kudapat hanya karena mencari tukang tambal ban. Hmm… bukankah seharusnya kita mendapat lbh banyak pelajaran dari kehidupan sehari-hari kita ? Atau kita hanya terlalu sibuk dengan diri kita sendiri sehingga kita tidak sempat mendapatkan pelajaran-pelajaran yang lbh bermakna daripada yang kita dapatkan di kuliah ? Berapa banyak waktu yang kita sia-siakan hanya untuk mencari hal-hal yang ternyata remeh ? Aku berdoa semoga kita (aku dan kamu yang sedang membaca tulisan ini) mendapatkan arti hidup yang sedang kita jalani ini.

See ya..
David Boy Tonara

5 Responses to “Renungan 29 Desember 2007”

  1. Kristian Says:

    Just like what i’ve expected ^^
    tak pikir, renungan sabtu dah berhenti beredar ^^ hehe

  2. David Boy Says:

    renungannya yang ini made in dewe lhooo… ^^
    mohon maaf kalo menurut anda kurang dalem ^^
    soalnya khan wa buat yang wa bgt jadi kalo buat wa sih ini nancep bgt

  3. Yulia Says:

    Bagian tubuh kita yang paling kecil pun masih sangat penting buat kita. Gimana jadinya kalo gak ada anus? mungkin ko shen gak bisa boker..
    (kok ko shen dikaitkan dengan segala hal yang berkaitan dengan boker..?)
    Yup.. bener juga katanya boy. Wih.. nyari tambal ban aja bisa dapet renungan bagus. sip2.. terusin ya bos..!

  4. xand Says:

    woi boy n yulia : “maksud loe”
    memang aku sebegitu terkenalnya ya dengan dunia perbokeran……
    To Nova : Nov sori ya kalo koko tercoolmu ini sudah melekat bgt dengan dunia perbokeran, kamu ga malu kan? mestine bangga lho aku punya image “boker” (dong 12x. kok bangga sih….)

  5. Lusi Says:

    hahahaha.. swt.. renungan bagus malah jadi comment pembicaraan boker?

    ko shen merusak suasana ah.. hehehehe…

Leave a Reply