Archive for February, 2008

Tribute to Thomas Sugio

Tuesday, February 26th, 2008

Sobat..

Memang aku tak terlalu mengenalmu…

Aku hanya mengenalmu dari hasil karyamu…

Memang tak sering aku bertukar canda tawa denganmu…

Tetapi sering aku berdecak kagum ketika melihat karyamu…

Di balik sosokmu yang sangat sederhana itu…

Tersimpan kepandaian dan ketekunan yang luar biasa…

Terima kasih sobat…

Telah mengingatkanku..

Tentang arti hidup…

Terima kasih sobat…

Telah mengingatkanku…

Tentang betapa aku telah menyianyiakan hidup ini…

Selamat jalan Thomas Sugio…

Semoga kau bahagia di alam sana…

Renungan 23 Februari 2008

Saturday, February 23rd, 2008

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata, untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti…

Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati,untuk menyadari betapa ia dicintai….

Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus…

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati.
Berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada….

Manusia buta karena egois dan hanya memikirkan diri.
Tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah….

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri….

Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati….
Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.
Padahal semua manusia memiliki peranan. Hebat dan no.1 dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain.
Dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain…..

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri.
Jikalau berharap dari orang lain, siaplah ditinggalkan, siaplah dikhianati…..

Kita akan bahagia bila bisa menerima, mencintai dan menghargai diri sendiri dan orang lain apa adanya…..

Percayalah kepada Tuhan, dan bersyukurlah kepadanya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati.
Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari….

Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang…..

Lalu kenapa selama ini kita tidak merasa bahagia ?
Benarkah tidak ada orang yang mencintai kita ?
Sering kali kita anggap remeh kekuatan cinta orang orang di sekitar kita,
Cinta orang tua kita yang membiayai kuliah kita dan mencurahkan begitu banyak kasih sayang pada kita,
Cinta orang terkasih kita yang selalu mendukung impian kita,
Cinta teman teman di sekitar kita yang selalu membuat kita nyaman ketika kita bersama mereka
Atau kita selama ini hanya kurang bersyukur ?
Bahagia itu mutlak…
Tidak bahagia itu pilihan…
Hanya sering kali kita lebih memilih untuk tidak bahagia…

Renungan 16 Februari 2008

Sunday, February 17th, 2008

Gini Nih efek buruk kalo buat renungan digital… begitu internet ngadat… bubar barisan jalan… Thx untuk TELKOM hari ini Speedy di rumahku isa jalan lancar lagi… Sorry keterlambatan renungan-nya

Dia
yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan memersatukan dua orang yang
berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi.


Dialah penolongmu yang sepadan, bukan lawan yang sepadan. Ketika
pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu,
tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat
engkau berada di depan, atau segera mengembalikan bola ketika bola itu
terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.

Dia ada
untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki: perasaan, emosi,
kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk
melahirkan, mengurusi hal-hal yang kadang dianggap sepele.. hingga
ketika kau tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan
bagiannya… sehingga tanpa kau sadari ketika menjalankan sisa
hidupmu… kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu.

Jika
ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki,
itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya
dengan sebuah senyuman, itulah perempuan.

Ia tidak butuh
argumentasi hebat dari seorang laki-laki… tetapi ia butuh jaminan
rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi.. .. tidak hanya
secara fisik tetapi juga emosi. Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta
yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara
detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah
perhatiannya. .. kata-kata yang lembut… ungkapan-ungkapan sayang yang
sepele… namun baginya sangat berarti… membuatnya aman di dekatmu….

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras  ternetralisir
oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tumbang oleh
badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang… seperti juga
di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang
membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun.

Ia lembut bukan
untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh
dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan perempuan, itu
sepersekian dari hidupnya…. tetapi jika perempuan berpikir tentang
perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya…

Karena
perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki, karena perempuan
adalah bagian dari laki-laki… apa yang menjadi bagian dari hidupnya,
akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga
barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh
dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada
karena ia lahir dan dibesarkan di sana …. karena mereka, ia menjadi
seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi
bagian dari perasaanmu juga… karena kau dan dia adalah satu…. dia
adalah dirimu yang tak ada sebelumnya.

Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu.

Untuk Laki2 : Sudahkah kamu memperlakukan wanita seperti itu ?

Untuk Wanita : Sudahkah kamu bertindak pantas untuk diperlakukan seperti itu ?

Renungan 9 Februari 2008

Saturday, February 9th, 2008

4 Orang Istri
Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri (not recommended lhooo….).
Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak.
Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk
memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya.
Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian.
Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini.
Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi
kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami.
Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya.
Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal.
Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku punya 4 orang
istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."

Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. "Kaulah yang paling
kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang,
aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam.
"Tentu saja tidak, "jawab istri keempat, dan pergi begitu
saja tanpa berkata-kata lagi.

Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada
pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga.
"Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir.
Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?
Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan
menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau
membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah
kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku,"
ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu
hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah
buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan
meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke
samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu
kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal,
sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik
saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku."

Renungan :

Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan
biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan
gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal.
Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan.
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain.
Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita.
Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan
kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah
yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah.
Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Renungan 2 Februari 2008

Saturday, February 2nd, 2008

Saya adalah ibu tiga
orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya.
Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen
sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang
diberikannya diberi nama "Tersenyum". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar
dan tersenyum kepada tiga orang dan
mendokumentasikan reaksi mereka. Saya
adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap
orang
dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah
mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak
bungsu saya, dan saya pergi ke restoran
McDonald’s pada suatu pagi di bulan
Maret yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami
dalam
antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami
mulai
menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.
Saya
tidak bergerak sama sekali… suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika
saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika
berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat, dan
berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.
Ketika saya menunduk
melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang
"tersenyum".

Matanya yang biru
langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia
berkata "Good day" sambil menghitung beberapa koin yang telah
ia kumpulkan.
Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di
belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita
defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya.

Saya menahan haru
ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda
di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, "Kopi saja,
Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
(Jika mereka ingin duduk
di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli
sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan).
Kemudian saya benar-benar
merasakannya - desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh
dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu.
Hal itu terjadi
bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap
saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada
wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi
dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan
melingkari sudut ke arah meja
yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya.

Saya meletakkan
nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki
bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan
berkata "Terima kasih."
Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan
berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu.
Tuhan berada di
sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan."

Saya mulai menangis
ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya.

Ketika saya duduk
suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan
memberikan kamu kepadaku, Sayang.
Untuk memberiku
harapan." Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu
kami tahu bahwa hanya karena
Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami
berikan untuk orang lain.

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih
Tuhan yang murni dan indah.
Saya kembali ke college, pada hari terakhir
kuliah, dengan cerita ini ditangan saya.
Saya menyerahkan
"proyek" saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan
berkata, "Bolehkan
saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya
mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai
membaca dan saat itu
saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari
Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan.

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang
yang ada diMcDonald’s, suamiku,
anakku, guruku, dan setiap jiwa yang
menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi..
Saya lulus
dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT.

Banyak cinta dan kasih
sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan
mempelajari bagaimana untuk
MENCINTAI SESAMA DAN
MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA
MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN
SESAMA.

Banyak orang akan datang
dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat2 sejati yang akan meninggalkan
jejak di dalam hatimu.
Untuk menangani
dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan
hatimu.

Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia
tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka.

Ia yang kehilangan
uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih
banyak;
tetapi ia yang
kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.
Orang-orang muda yang
cantik
adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya
seni.
Belajarlah dari kesalahan orang lain.
Engkau tidak dapat
hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.

Sudahkah kita bagi hidup kita hari ini pada orang lain ?
Atau fokus kita hanya diri kita, diri kita, dan diri kita…
Cobalah bagi apa yang kamu miliki skrg dengan orang lain…
Rasakan gairah hidup yang baru !!