Renungan 2 Februari 2008

Saya adalah ibu tiga
orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya.
Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen
sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang
diberikannya diberi nama "Tersenyum". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar
dan tersenyum kepada tiga orang dan
mendokumentasikan reaksi mereka. Saya
adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap
orang
dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah
mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak
bungsu saya, dan saya pergi ke restoran
McDonald’s pada suatu pagi di bulan
Maret yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami
dalam
antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami
mulai
menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.
Saya
tidak bergerak sama sekali… suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika
saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika
berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat, dan
berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.
Ketika saya menunduk
melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang
"tersenyum".

Matanya yang biru
langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia
berkata "Good day" sambil menghitung beberapa koin yang telah
ia kumpulkan.
Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di
belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita
defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya.

Saya menahan haru
ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda
di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, "Kopi saja,
Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
(Jika mereka ingin duduk
di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli
sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan).
Kemudian saya benar-benar
merasakannya - desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh
dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu.
Hal itu terjadi
bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap
saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada
wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi
dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan
melingkari sudut ke arah meja
yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya.

Saya meletakkan
nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki
bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan
berkata "Terima kasih."
Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan
berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu.
Tuhan berada di
sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan."

Saya mulai menangis
ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya.

Ketika saya duduk
suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan
memberikan kamu kepadaku, Sayang.
Untuk memberiku
harapan." Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu
kami tahu bahwa hanya karena
Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami
berikan untuk orang lain.

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih
Tuhan yang murni dan indah.
Saya kembali ke college, pada hari terakhir
kuliah, dengan cerita ini ditangan saya.
Saya menyerahkan
"proyek" saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan
berkata, "Bolehkan
saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya
mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai
membaca dan saat itu
saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari
Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan.

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang
yang ada diMcDonald’s, suamiku,
anakku, guruku, dan setiap jiwa yang
menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi..
Saya lulus
dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT.

Banyak cinta dan kasih
sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan
mempelajari bagaimana untuk
MENCINTAI SESAMA DAN
MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA
MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN
SESAMA.

Banyak orang akan datang
dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat2 sejati yang akan meninggalkan
jejak di dalam hatimu.
Untuk menangani
dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan
hatimu.

Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia
tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka.

Ia yang kehilangan
uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih
banyak;
tetapi ia yang
kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.
Orang-orang muda yang
cantik
adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya
seni.
Belajarlah dari kesalahan orang lain.
Engkau tidak dapat
hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.

Sudahkah kita bagi hidup kita hari ini pada orang lain ?
Atau fokus kita hanya diri kita, diri kita, dan diri kita…
Cobalah bagi apa yang kamu miliki skrg dengan orang lain…
Rasakan gairah hidup yang baru !!

2 Responses to “Renungan 2 Februari 2008”

  1. xand Says:

    Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak; tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya. –> ……

    Btw mana lanjutan’e diklat boy, aku selak kehilangan eufhoria diklat boy…..

  2. David Boy Says:

    wkwkwkwk sek baru 1 peserta seng buat tulisan tentang diklat..
    blon memenuhi quota ^^

Leave a Reply