Archive for March, 2008

Renungan 22 Maret 2008

Saturday, March 22nd, 2008

Renungan Paskah - Keterikatan…

Pertama tama saya ingin meminta maaf atas para pembaca renungan sabtu di blog untuk post blog sebelumnya (Renungan 15 Maret 2008) yang kacau dalam tampilan penulisannya. Saya juga minta maaf karena baru bisa membetulkannya sekarang karena saya masih dalam status peperangan dengan virus, trojan, dan spyware…

Kedua saya ingin meminta maaf atas para pembaca renungan sabtu di group karena sudah 2 minggu tidak mendapatkan renungan saya… Hal ini disebabkan oleh spyware yang menjangkiti computer saya membuat computer saya selalu ‘hang’ ketika mozilla membuka mail.yahoo.com.. Cukup aneh ? ya.. sangat aneh.. dan sangat menyebalkan karena sekarang saya harus membaca, mereply, dan mendelete sekitar 150an e-mail yang masuk sejak 2 minggu yang lalu

Renungan kali ini adalah renungan buatan saya sendiri berhubung saya online dari warnet dan saya merasa kurang maksimal jika saya mencari artikel dalam waktu kurang dari 2 jam untuk renungan yang hanya muncul 1 minggu sekali (Karena kalo munculnya cmn 1 minggu sekali berarti harusnya renungan itu bagus !!). Kalo kata Titi Kamal "Ga Nendang !!" ^^. Renungan kali ini terinspirasi ketika saya di SENAT dengan Rudi(2005), WIlliam(2004), Vella(2005), Edo(2005), dan seseorang-yang-saya-tidak-tahu-namanya(2005). Saat itu Rudi memiliki ide untuk kembali ke masa lalu dan membunuh orang orang yang membuat dia harus belajar sekarang. Di antaranya dia ingin membunuh Aristoteles, Galileo, Phytagoras, bahkan si bodoh Newton yang sempat sempatnya berpikir kenapa buah apel jatuh ke bawah (dia mengakui kalau sampai hal itu -buah apel jatuh ke bawah- terjadi padanya, dia akan panjat pohon itu dan memakan buah apel lainnya)

Ok sebelum kita masuk pada renungan mari kita lakukan 1 hal dulu. Mari kita bersama sama mendaftar 5 hal di luar tubuh kita yang kita tidak bisa hidup tanpanya…

Ok saya akan beri anda waktu…

Pikirkan baik-baik, gunakan waktu anda sebaik baiknya…

Ok.. berapa banyak dari anda yang menuliskan internet di dalamnya ?
Ya jika sekarang anda merasa anda tidak dapat hidup tanpa internet anda boleh mengganti satu hal dari daftar anda dengan internet

Next… berapa banyak dari anda yang menuliskan komputer di dalamnya ?
Hmm… ok untuk sekarang lagi lagi anda boleh merevisi daftar "hal-yang-anda-tidak-dapat-hidup-tanpanya"

Berapa banyak dari anda yang sudah menuliskan listrik di daftar anda ?
Nah.. anda terlupa ? Apakah anda yakin anda dapat hidup tanpa listrik ? Ya ya ya sampai saat ini anda masih mendapatkan kesempatan untuk merevisi daftar anda.

Lalu… berapa banyak dari anda yang melupakan Air, Udara(Oksigen), Ozon, Matahari ?

Ah… tampaknya jumlah 5 kurang buat anda ya ? Ok buatlah menjadi 10…
Pikirkan kembali…
Pelan-pelan..
hati-hati…
Karena ini saat terakhir anda boleh mengkoreksi daftar anda…

Ok..
Selesai…
Sekarang baca daftar anda…
Dan apakah anda menemukan tulisan "Tuhan" di sana ?
Tidak ?
Lalu menurut anda apakah Dia tidak penting ?
Ohh.. menurut anda sistem reproduksi, pencernaan, dan respirasi manusia berjalan dengan serba kebetulan ?
Atau sebegitu percayanya anda bahwa amoeba itu berevolusi menjadi manusia ?
Karena jika manusia dari kera, lalu kera dari…, seharusnya …. berasal dari hewan bersel 1 (dalam hal ini saya ambil contoh amoeba).
Dan untuk anda yang menemukan tulisan "Tuhan", sejujurnya.. di urutan ke-berapa anda baru menemukan kata "Tuhan" ?
2,3,4,5 ?
atau bahkan 9,10 ?
Atau anda yang menuliskan di nomor 1 hanya karena Pelajaran Pancasila dan Agama begitu merasuk dalam diri anda ?
Jujurlah pada diri anda sendiri… tadi.. apakah anda lebih cepat berpikir listrik, internet, komputer, udara, air daripada Tuhan ?

Well itu menggambarkan prioritas kita saat ini.
Mari kita ambil waktu sejenak untuk mengatur kembali prioritas kita…
Banyak dari kita di mana prioritas kita sedang kacau sekarang…
Banyak dari kita yang sedang sombong bahwa kita sedang dalam keadaan "tidak-butuh-Tuhan" sekarang ini…
Kalau kita telah mengatur prioritas kita, maka mari kita sisihkan waktu lebih banyak untuk prioritas utama kita…
Harusnya… kita lbh sering berdoa daripada bernafas…
Berdoa bukan berarti tutup mata atau bersemedi…
Doa intinya mencari/mendekat/melakukan usaha untuk dekat dengan Tuhan…
Sudahkah kita lakukan itu ?
Mari kita sama-sama belajar melakukannya…

"Cause without Him we are nothing, and with Him we could be everything"

Renungan 15 Maret 2008

Saturday, March 15th, 2008

RENUNGAN MENJELANG PASKAH — CUKUP TAHUKAH KITA MAKNA KASIH ??

“Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa
17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota, tak tahu aku
bener ga nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang
kulit hitam. Tak lama kemudian,sang wanita melahirkan seorang bayi
perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung
tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya,sang bayi kini
menderita leukemia (kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum
tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya
penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat
melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth. “

Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap
orang membicarakannya.Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani
muncul? Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia
berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan
merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras
untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni. Kisah ini
akan berakhir bagaimanakah ?

Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu
kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali.Martha, 35 thn, adalah
wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson
adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua anaknya, ternyata
terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap
orang disekitar mereka untuk bertanya. Martha hanya tersenyum kecil
berkata pada mereka bahwa nenek mereka berkulit hitam, dan kakeknya
berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini

Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami
demam tinggi. Terakhir, Dr.Adely memvonis Monika menderita leukimia.
Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang
yang paling cocok untuknya.Dokter menjelaskan lebih lanjut.

Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara
yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh
anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum
tulang belakang.
Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani
pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok.Dokter memberitahu mereka,
dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah
kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur,
yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan
darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi
panik, dan berkata tanpa suara “Tuhan..kenapa menjadi begini ?”

Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa.
Peterson mengerutkan keningnya berpikir, Dr. Adely berusaha menjelaskan
pada mereka, saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk
menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap
bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. Hal ini
hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung
begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata, Biarkan kami memikirkannya
kembali.

Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang
kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut.Martha menggigit
bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata
serius pada dokter. Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi
harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan
rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun. Dr.Adely menganggukkan
kepalanya.

Itu adalah 10 tahun lalu, bulan 5 1992. Waktu itu anak kami yang
pertama, Eleana telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah
restoran fast food.Setiap hari pukul 10 malam baru pulang kerja. Malam
itu, turun hujan lebat. Saat Martha pulang kerja, seluruh jalanan telah
tiada orang satupun. Saat melalui suatu parkiran yang tak terpakai
lagi. Martha mendengar suara langkah kaki. Dengan ketakutan memutar
kepala untuk melihat, seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di
belakang tubuhnya. Orang tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya
hingga pingsan, dan memperkosanya. Saat Martha sadar, dan pulang ke
rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu
itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk
membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam
itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan.
Sepertinya seluruh langit runtuh.

Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan
kembali. Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa
sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik
orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku
masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah
bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan.Maret
1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami
begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti
asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih
lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah
nyawa.
Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.

Mata Dr.Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa
bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal
yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan
kepala berkata, “Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak
sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika.”

Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata, “
Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali
sumsum tulangnya, atau sumsum tulang belakang anaknya ada yang cocok
untuk Monika.Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali
muncul dalam kehidupan kalian?”

Martha berkata : "Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya.
Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya.

Dr.Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu. Berita
pencarian yang istimewa ini mengakibatkan banjir pedonor sumsum tulang
belakang.

Terlebih lagi lewat waktu begitu lama, mau mencari sang pemerkosa
dimana Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum
akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan
menggunakan nama samaran.
November 2002, di Koran Wayeli termuat berita pencarian ini. Seperti
yang digambarkan sebelumnya, berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan
waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak
perempuan penderita leukimia !

Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan.
Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, karena
kebanjiran surat masuk dan telepon. Orang-orang terus bertanya siapakah
wanita ini. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan
bantuan padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak
ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi
identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.
Saat ini juga seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir.

(Surat kabar Roma) berkomentar dengan topik : Orang hitam itu akan
munculkah? Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah
masyarakat kita sekarang menilainya? Akankah menggunakan hukum yang
berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia menerima hukuman dan cacian
untuk masa lalunya? Ataukah ia harus menerima pujian karena
keberaniannya hari ini ?

(Surat kabar Wayeli) manulis topik : Bila Anda orang berkulit hitam
itu, apa tindakan yang Anda lakukan? sebagai bahan diskusi. Dan menarik
berbagai pendapat akan sulitnya berada di dua pilihan ini.

Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha, memberikan
laporan terpidana hukuman pada tahun 1992 pada RS. Dikarenakan jumlah
orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun
terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam. Mereka
berkata pada Martha : “Sekalipun beberapa orang bukanlah terhukum
karena tindak perkosaan, tapi mungkin beberapa juga menemui hal seperti
ini.”

Beberapa orang ini juga sebagian telah keluar penjara, sebagian lainnya
masih berada di dalam penjara. Martha dan Peterson menghubungi beberapa
orang ini, begitu banyak terpidana waktu itu yang bersungguh-sungguh
dan antusias untuk memberikan petunjuk. Tapi sayangnya, mereka semua
bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu itu.

Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan, tak
sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka
berkulit hitam maupun berkulit putih, mereka semua bersukarela
mendaftar untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap
dapat mendonorkannya untuk Monika. Tapi tak satupun pedonor yang
memenuhi kriteria di antara mereka.
Berita pencarian ini mengharukan banyak orang, tak sedikit orang yang
bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk
mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin
lama semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan
sumsum tulang belakang.

Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini
menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya, sayangnya Monika tak
termasuk diantara mereka yang beruntung. Martha dan Peterson menantikan
dengan panik kemunculan si kulit hitam. Akhirnya dua bulan telah lewat,
orang ini tak muncul-muncul juga. Dengan tidak tenang, mereka mulai
berpikir, mungkin orang hitam itu telah meninggalkan dunia ini? Mungkin
ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung halamannya dan sudah sejak lama
tak berada di Itali? Atau mungkin juga ia tak bersedia merusak
kehidupannya sendiri, tak ingin muncul ?

Tapi tak peduli bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka
tak rela untuk melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu. Karna
mereka yakin, bahwa disaat sebuah jiwa merana tak menentu dan
keputusasaan melanda, setitik harapan pasti akan kembali muncul.

Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, dan telah
memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras
berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992
waktu itu, ia memiliki lembaran tergelap dan merupakan mimpi
terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam
kisah ini. Tak seorang pun akan menyangka, Ajili yang sangat kaya raya
itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang
tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah
mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu
pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi
mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya,
bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya.
Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei
1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja
lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah
kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya,
memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul
sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah
kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih.
Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia
bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian,
ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.

Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu
juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju
Napulese, meninggalkan kota ini. Di Napulese, ia bertemu
keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran
milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi
kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan
pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka. Beberapa
tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko
minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu.
Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan
bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya
tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya.

Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita
yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram.
Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun.
Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus
mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud.
Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu
mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara
dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya.

Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon Dr.Adely.
Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah
menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia
mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya
ini. Anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan
keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan
penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan
ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.

Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus
Martha. Sang istri, Lina berkata : "Aku sangat mengagumi Martha. Bila
aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak
hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha,
ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima
anak yang demikian".

Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba
mengajukan pertanyaan : “Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku
pemerkosaan itu?”
“Sedikitpun aku tak akan memaafkannya!! Waktu itu ia sudah membuat
kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya
sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut!!
Ia benar-benar seorang pengecut!!!” demikian istrinya menjawab dengan
dipenuhi api kemarahan.

Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya.
Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia
tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan
menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata : "Kau ayah yang jahat,
aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku!"

Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat
sang anak dan berkata : "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang
salah, maafkan papa ya…" Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis.
Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk
menenangkan ayahnya : "Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang
baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya.“

Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar
dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras
itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit
tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri
: "Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat?"

Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh
keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi
rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya,
memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah Dan
ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di
jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah : "Selamat pagi, manager !"
Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati
dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu.Ia merasa dirinya hampir
menjadi gila saja rasanya.

Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi
terus diam saja, ia pun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga
menjaga suaranya supaya tetap tenang : "Aku ingin mengetahui keadaan
anak malang itu.”
Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely
menambahkan kalimat terakhirnya berkata : "Entah apa ia dapat menunggu
hari kemunculan ayah kandungnya.”

Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam. Suatu
perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak
itu juga merupakan darah dagingnya sendiri! Ia pun membulatkan tekad
untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh
kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu
juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang
istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata : "Sangatlah
mungkin bahwa aku adalah ayah Monika Aku harus menyelamatkannya!”

Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah : "Kau PEMBOHONG!!!"

Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah
ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili,
kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka
adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya
: "Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di
masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya
untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan
bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan
seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia
memperbaiki dirinya Ataukah seorang suami yang selamanya menyimpan
kebusukan ini didalamnya ?"

Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi-pagi di hari kedua, ia
langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi
penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata : "Ajili, pergilah menemui
Dr. Adely ! Aku akan menemanimu !"

3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely.

8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk
pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika.
Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada
akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air
matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap
Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu.

Segalanya
berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan
pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas
mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan
sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika
telah ditemukan.
Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka
terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk
dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus
penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat : "Barangkali ia pernah
melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !"

10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat
bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk
menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui
hal ini.

18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha
bertemu langsung dengan Ajili. Ajili baru saja memangkas rambutnya,
saat ia melihat Marth, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut
wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka
bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang
tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata
mereka bersama-sama mengalir. Beberapa waktu kemudian, dengan suara
serak Ajili berkata : "Maaf…mohon maafkan aku! Kalimat ini telah
terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat
kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu.”

Martha menjawab : "Terima kasih Kau dapat muncul. Semoga Tuhan
memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku."

19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili.
Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang
dokter berkata dengan antusias : "Ini suatu keajaiban !"

22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya
terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada
akhirnya Monika telah melewati masa kritis .Satu minggu kemudian,
Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat. Martha dan suami
memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr.
Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili
tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam
suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya, dan berkata : "Aku
tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap
Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila
kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan
berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian. Saat ini juga, aku sangat
berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah
yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku
dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparoh usiaku
selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !”

Renungan 8 Maret 2008

Saturday, March 8th, 2008

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah
sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki
berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera
menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

"Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas dan akhirnya
dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Gak sampe 20 menit kemudian
saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia
menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu,
dan dia berlalu begitu saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika
menghampiri meja saya lagi.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil
menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran.
Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang
lalu dia tanya, "mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak,… Ibu." Halus
budi bahasanya pikir saya.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya
melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau
tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya
enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil..
Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat
saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia
tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela, dan membalas
senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat
oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali,
sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan
menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di
hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,-
padanya.

"Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu." Saya
berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu
menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan
kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya. .

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya
saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada
seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil
anak itu.

"Kenapa Bang, mau beli kue ya?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang
berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu.. Emak marah kalau dia tahu saya
mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.
Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan
masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak
berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran
sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya
terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua ?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah
saya kelu mau berkata.

"Rp 25.000,- saja Bang…." Dengan gembira dia memasukkan satu persatu
kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan
terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.

Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita
berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu ?. Sesungguhnya saya
kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya..
…..

Renungan 01 Maret 2008

Saturday, March 1st, 2008

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan
Bib, yang sedang
melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak
yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.
Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang
berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen
yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob
dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil.
Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat
jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat
banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia
simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut
tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak
pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen
yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat
gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen
lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang
lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana
perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat?
Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau
kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam
mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan
tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen
lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya.
Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab
pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
"Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi
kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil
saya?" tanya
Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama.
Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah
sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada
seorang
kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia
beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak
menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia
lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk
mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan
tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk
memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal
dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang
berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya
menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati,
"Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop
sudah
berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita
menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi
lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya
tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka
menjawab,
"Saya akan bahagia nanti… nanti pada waktu saya sudah menikah…nanti
pada waktu saya memiliki rumah sendiri… nanti pada saat suami saya lebih
mencintai saya… nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya…
nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar… "

Pemikiran "nanti" itu membuat kita bekerja sangat keras di saat
"sekarang".
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa
"nanti" bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata
kita
telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa
"nanti"
bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak
pernah sampai di masa "nanti" bahagia itu. Ritme hidup yang sangat
cepat…
target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah
yang membuat semua target itu… tetap semuanya itu tidak pernah terasa
memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita
duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita
mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama
keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras
dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran;
memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari
setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah
anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari
begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita
akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih
damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia
dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen
lolipop.